KEPRIMAAN: MEMBANGUN KETEGUHAN HATI

2015-08-23

KEPRIMAAN: MEMBANGUN KETEGUHAN HATI

” Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan
giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan
dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”.
( 1 Korintus 15:58 )”

Pada saat kesulitan datang menerpa seringkali kita berfikir bahwa Tuhan tidak
mengasihi kita. Kita berfikir Tuhan berada begitu jauh dan tidak mampu
mendengar jeritan permintaan tolong yang kita sampaikan, bahkan kita
beranggapan barangkali Tuhan sudah tidak ada. Pada masa-masa kesukaran itu
datang menimpa acapkali kita juga merasa bahwa Tuhan telah berbuat tidak adil.
Orang lain hidupnya mudah dan enak-enak saja, sedangkan kita hidup dengan penuh
kesulitan dan kesukaran. Kita menganggap bahwa Tuhan telah berlaku tidak adil dan
menganak-tirikan kita. Pertanyaannya, benarkah Tuhan itu tidak mengasihi kita?
Benarkan Tuhan itu tidak adil? Benarkah Tuhan itu menganak-tirikan kita?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut tentunya tidak benar. Sebab
memang Tuhan mengasihi umatNya. Bukti kasihNya itu jelas dan fakta sebagaimana
yang dinyatakan di dalam Yesus Kristus. Melalui perikop pembacaan Alkitab hari
ini disaksikan Yesus Kristus sudah mengalahkan maut bagi kita, “maut telah ditelan
dalam kemenangan, hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah
sengatmu? “¦” Selanjutnya Rasul Paulus menyatakan supaya kita bersyukur
kepada Allah yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus
Tuhan kita. Jadi, jelas bahwa Tuhan Yesus sangat mengasihi kita, dan jelas juga
bahwa Tuhan Yesus berlaku adil terhadap kita umatNya. Oleh karena itu ketika
umat diperhadapkan dengan kesulitan dan kesukaran, bukan karena Tuhan tidak
mengasihi dan tidak adil, tapi kesulitan dan kesukaran perlu dilihat sebagai proses
pendidikan yang mendewasakan. Seperti besi dan baja di tangan seorang pandai
besi yang dibakar dan dipukul untuk menghasilkan pedang yang tajam.
Tuhan butuhkan dari kita kesediaan dan kerelaan untuk setia dan teguh dalam proses
yang sedang Tuhan lakukan atas kita. Karena itu untuk mencapai sebuah keprimaan
dibutuhkan sikap berdiri teguh, jangan goyah, dan giat selalu dalam pekerjaan
Tuhan. Karena dengan itu semua jerih payah kita tidak menjadi sia-sia. (AE)
Refleksi :
kegagalan bukan akhir dari segala-segalanya, tapi justru dijadikan tonggak awal
sebuah keberhasilan