BUKAN NEKAT, TAPI BERANI MENGAMBIL RISIKO

2015-08-24

BUKAN NEKAT, TAPI BERANI MENGAMBIL RISIKO

” Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang
baik lagi benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. ia berasal
dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan Allah. Ia pergi
menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Dan sesudah ia menurunkan mayat
itu, ia mengapaninya dengan kain lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur
yang digali di dalam bukit batu, di mana belum pernah dibaringkan mayat.”
( Lukas 23:50-53 )”

Nekat adalah tindakan gegabah tanpa perhitungan dan tindakan yang tidak
didasari oleh pertimbangan yang matang. Sedangkan berani mengambil risiko
adalah sebuah keputusan dan tindakan yang dipilih atas dasar pertimbangan
yang kuat, walaupun ada konsekwensi atau risiko yang harus ditanggung.
Seorang yang bernama Yusuf berasal dari sebuah kota di Yahudi yang bernama
Arimetea pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus. Dalam posisinya
sebagai anggota Majelis Besar tentu tindakannya meminta mayat Yesus adalah
sebuah tindakan yang penuh risiko. Mengapa berisiko? Karena selain ia bisa saja
dilengserkan dari kedudukannya sebagai Majelis besar, tapi bisa saja lebih dari itu,
ia bisa dituding sebagai antek-antek Yesus dan dianggap sebagai kelompok makar.
Namun bagi Yusuf Arimatea, statusnya sebagai Majelis Besar dan tantangan risiko
yang akan dialamainya tidak menyurutkan langkahnya untuk menurunkan jenasah
Yesus dan meletakkannya di dalam kuburan yang masih baru yang ia gali sendiri.
Tindakannya ini ia lakukan karena ia mencintai Yesus sebagai seorang murid dan
kerinduannya yang berkobar untuk memberitakan Kerajaan Allah. Sikap seorang
murid yang “tidak terkenal” tapi nyata dalam tindakan. Sikap berbeda justru
ditunjukkan oleh murid-murid lainnya yang selama itu menunjukkan ” kedekatannya
” dengan Yesus tapi tidak melakukan apapun karena ketakutan. Rasa takut sering
mematikan semangat dan membuat seseorang tidak melakukan sesuatu apapun.
Hidup kita di dunia ini sering digambarkan seperti kapal di laut lepas. Banyak hujan
dan badai yang siap menerpa. Kita seringkali merasa takut, terlebih dalam status kita
selaku murid Kristus. ( baca: lembaga Kristen ) Akankah kita berdiam diri dan tidak
melakukan sesuatu apapun? Tentu tidak, kita perlu belajar dari Yusuf Arimatea yang
berani mengambil risiko untuk sebuah misi. (AE)
Refleksi :
Aksi kecil lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.