PRIMA BERARTI MAU MENCUKUPKAN DIRI

2015-08-26

PRIMA BERARTI MAU MENCUKUPKAN DIRI

“Ada datang juga pemungut-pemungut cukai untuk dibaptis v dan mereka bertanya
kepadanya: “Guru, apakah yang harus kami perbuat?”Jawabnya: “Jangan menagih
lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.Dan prajurit-prajurit bertanya
juga kepadanya: “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?” Jawab Yohanes
kepada mereka: “Jangan merampas dan jangan memeras x dan cukupkanlah dirimu
dengan gajimu.”
(Lukas 3:12-14)”

Ada ajaran seorang guru kehidupan tentang mencukupkan diri. Ia mengatakan
jika anda memiliki setengah gelas air putih untuk diminum, maka lihatlah
setengah ke bawah yang terisi air. Jangan melihat ke atas yang kosong supaya
anda dapat bersyukur atasnya. Perasaan bahagia itu tidak ditentukan oleh seberapa
banyak harta benda yang dimiliki seseorang. Banyak contoh yang membuktikan
bahwa orang yang banyak memiliki uang belum tentu ia memiliki kebahagiaan.
Salah-satu penentu kebahagiaan adalah mencukupkan diri. Seseorang yang
hidupnya mampu mencukupkan diri dengan apa yang ada padanya, maka ia akan
mampu mengucap-syukur kepada Tuhan dan terhindar dari tindakan-tindakan yang
dapat merugikan pihak lain.
Pekerjaan pemungut cukai dan prajurit pada jaman Yohanes dikenal sebagai
pekerjaan yang suka memeras dan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya
bagi keuntungan diri sendiri. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang sangat dibenci
karena memiskinkan masyarakat. Sebelum bertobat para pemungut cukai dan
prajurit selalu serakah dan menuntut lebih banyak dari yang seharusnya, sehingga
mereka memeras dan merampas. Namun setelah pertobatan itu terjadi, mereka
tidak lagi serakah dan memeras, tetapi justru mereka mencukupkan diri dengan apa
yang ada pada mereka. Mencukupkan diri dengan penghasilan dan gaji yang mereka
terima. Mereka tidak lagi memeras dan memiskinkan pihak lain. Setelah mengalami
pertobatan mereka tidak lagi serakah, tetapi terjadi transformasi yang disebabkan
oleh anugerah Tuhan yakni mereka hidup dengan pola mencukupkan diri dengan
apa yang ada pada mereka.
Hidup dalam pertobatan yang diarahkan oleh anugerah Tuhan dengan cara
mencukupkan diri akan menghindarkan kita dari sikap materialistic, konsumeristik,
dan hedonistik. Kita akan dimampukan untuk mengembangkan sikap bersyukur dan
membangun pola kerja yang maksimal.(AE)
Refleksi :
Hidup yang sehat adalah hidup yang senantiasa bersyukur.