SUMBER NILAI KESEMPURNAAN IMAN

2015-08-27

SUMBER NILAI KESEMPURNAAN IMAN

Tetapi buah Roh ialah: Kasih, Suka cita, Damai sejahtera, Kesabaran, Kemurahan,
Kebaikan, Kesetiaan, Kelemahlembutan, Penguasaan diri. Tidak ada hukum yang
menentang hal-hal itu.
(Galatia 5:22-23)”

Dalam tradisi budaya Jepang ada yang dikenal dengan istilah Bushido (kanji:
武士道 “tatacara ksatria”), yakni sebuah kode etik tentang keksatriaan dari
kelompok Samurai era feodalisme bangsa Jepang di masa lalu. Bushido
sendiri adalah sebuah tradisi yang berakar pada nilai-nilai moral samurai, yang
seringkali menekankan pada beberapa kombinasi nilai yang paling mendasar yakni
kesederhanaan, kesetiaan, penguasaan seni bela diri, dan kehormatan sampai
mati. Jadi jika kita melihat bagaimana sikap bangsa Jepang menjunjung tinggi
kehormatannya, bahkan sampai pada tindakan ekstrim hara-kiri (bunuh diri) dari
pada hidup dengan menanggung rasa malu. Bangsa Jepang bersikap dan bertindak
sesuai dengan nilai yang menjadi sumber bagi sikap hidup mereka.
Kepada jemaat di Galatia Rasul Paulus menuliskan sebuah surat yang menjelaskan
nilai-nilai yang kita kenal dengan istilah buah-buah Roh seperti yang tertera di atas.
Paling tidak ada Sembilan nilai mendasar, yang seharusnya mencerminkan nilai-nilai
yang menjadi sumber bagi orang percaya untuk bersikap sebagai bagian dari karya
Roh Kudus. Dan tentu saja ini adalah sebuah karakter yang universal, seperti yang
ditegaskan oleh Rasul Paulus Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
Namun pertanyaannya adalah, apakah dalam kehidupan kita sebagai orang percaya,
kita mempergunakan nilai-nilai tersebut sebagai landasan bagi kita untuk bersikap?
Atau realitasnya kita malah menggunakan nilai-nilai lain, yang belum tentu jelas
nilai-nilai kekristenannya? Hal ini sangat penting, sebab kita tahu bahwa dalam
kehidupan ini ternyata ada banyak orang yang secara identitas menyebut dirinya
Kristen, namun ternyata dalam realitasnya ia tidak memiliki landasan nilai-nilai
kekristenan yang menjadi sumber bagi pengambilan sikap atau keputusan dalam
kehidupannya. Alhasil kehidupannya seharusnya mencerminkan Kristus, justru
menjadi sebuah kemasan dengan isi yang berbeda. (AT)
Refleksi :
Sudahkah Anda menjalani kehidupan ini sesuai dengan nilai-nilai kekristenan?