MEMBAYAR HAK ORANG

2015-08-28

MEMBAYAR HAK ORANG

Bukankah Kitab Suci berkata: “Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang
sedang mengirik,” dan lagi “seorang pekerja patut mendapat upahnya.”
(I Timotius 5:18)”

Untuk menumbuhkan sikap keprimaan diperlukan sebuah lingkungan yang
kondusif, salah satunya adalah dengan memperhatikan hak-hak orang yang
sudah menampilkan pekerjaannya secara prima. Bagaimana menurut Anda
jika ada orang tua menuntut nilai yang tinggi kepada anak-anaknya, dan ketika anakanaknya
sudah berjuang keras untuk mendapatkan nilai yang tinggi dari sekolahnya,
orang tua tersebut kemudian cuek-cuek saja. Ia bahkan tidak memberikan pujian
apalagi penghargaan. Ia hanya menekankan bahwa anak-anaknya harus berprestasi
dan mendapatkan nilai yang baik.
John Gill”™s Exposition Bible menjelaskan ayat di atas dengan istilah ox & labor, atau
sapi dan kerja kerasnya. Meskipun ayat tersebut ditujukan pada konteks pekerja
pelayanan atau pemberita Injil. Ia menyatakan bahwa hak-hak mereka seharusnya
dipenuhi. Sedangkan Barnes Commentary lebih menekankan pada pemeliharaan
(provision) untuk memenuhi kebutuhan. Hukum Firman Allah ini juga menjadi salah
satu dasar nilai tentang hak dan upah, dari perkembangan etos kerja Protestanisme
di Eropa Barat, yang membawa kemajuan benua tersebut hingga saat ini.
Ketika bekerja di antara para expatriates asing dari berbagai Negara pada saat
Tsunami di Banda Aceh tahun 2004 lalu, hampir seluruh daya, usaha, kreativitas,
inovasi jasa yang saya kerjakan mendapatkan upah yang layak. Namun ketika tahun
2008 saya pindah ke kota Banda Aceh, hampir seluruh pekerjaan yang sama tidak
mendapatkan penghargaan yang selayaknya. Saya bahkan bisa mendengar sloganslogan
ini bertebaran di dunia bisnis atau profesi di negeri kita tercinta ini: “Kalau
bisa gratis kenapa mesti bayar?” Saya pernah membina komunitas grup fotografi
dan talent fotomodel Indonesia yang kebingungan bagaimana menentukan tarif
terhadap daya dan kreativitas mereka, sebab semuanya ingin barang atau jasa
gratisan, atau upah yang sangat tidak layak. (AT)
Refleksi :
Bisakah keprimaan lahir di suatu tempat yang tidak memberikan penghargaan yang
layak pada hasil karya atau pekerjaan seseorang?