DOKTOR YANG BERBEDA

“Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau ke jalan yang lurus.“ (Amsal. 4:11).

Clark D. Campbell adalah seorang profesor psikologi dari George Fox University di Newberg, Oregon. Ketika tahun pertama di universitas, dia yakin sekali bahwa Tuhan menghendaki dia menjadi seorang dokter dan mungkin melayani di ladang misi. Dia belajar dengan keras pada waktu kuliah di kelas persiapan masuk ke Fakultas Kedokteran. Ketika ujian Fisika di tahun kedua, dia mulai bertanya-tanya apakah dia sanggup masuk Fakultas Kedokteran. Dia bahkan bertanya kepada diri sendiri, apakah dia harus menjadi seorang dokter? Masa itu merupakan proses yang sangat menyakitkan dan sepi. Sebelumnya jalan menuju karir di bidang medis begitu jelas dan cerah. Sekarang malah dia mempertanyakan jurusan yang dipilihnya ketika di perguruan tinggi. Masa depan kehidupan setelah tamat, lokasi tempat tinggal, dan hubungan menjadi tidak jelas.

Dia menjadi terbuka kepada mata kuliah lain selain Biologi. Dia sangat menyukai mata kuliah Psikologi Umum. Dia mulai berpikir untuk mengambil jurusan psikologi. Selanjutnya dia mengambil lebih banyak mata kuliah psikologi daripada kedokteran. Pada akhir tahun ke-empat, dia memutuskan untuk meyelesaikan studi dalam bidang psikologi. Namun, ada sedikit rasa bersalah, karena dia merasa tidak memenuhi panggilan Tuhan untuk menjadi seorang dokter. Setelah menyelesaikan jurusan psikologi, dia melanjutkan ke program doktoral di bidang psikologi klinis. Selanjutnya dia mendapatkan kejelasan bahwa menolong orang yang mengalami masalah psikologis adalah salah satu cara untuk memenuhi panggilan Tuhan. Itu ditandai dengan keberhasilan menyelesaikan mata-mata kuliah dan praktek magang, serta sukacita yang dirasakan dari apa yang dia lakukan. Selain itu, setelah menjadi doktor dalam bidang psikologi klinis, dia juga mendapat kesempatan untuk mengajar di program sarjana dan pascasarjana. Kesempatan yang tidak pernah diimpikan sebelumnya. Bahkan dia bisa mengajar kuliah behavioral medicine di Fakultas Kedokteran. Suatu ironi bahwa sekarang dia mengajar orang-orang yang melakukan apa yang dahulu sangat diyakininya untuk dilakukannya – menjadi seorang dokter. (ROR)

Refleksi:
Ketika kita berdoa, Tuhan sering mengubah tujuan dan keinginan kita dan tidak mengubah keadaan atau situasi kita.

TUJUAN BELAJAR DI UNIVERSITAS KRISTEN

Untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan, dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda, baiklah orang bijak mendengar dan menambahilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan (Amsal 1:2-5).

Untuk apakah sebuah perguruan tinggi Kristen didirikan? Apakah alasan untuk menyediakan pendidikan yang berdasarkan kasih dan keteladanan Kristus atau nilai-nilai kehidupan Kristen? Seorang rektor universitas di Spring Arbor Michigan, Gayle D. Beebe, ingin berbagi cerita. Demikian ceritanya: “Duapuluh lima tahun yang lalu saya memulai karir di salah satu perguruan tinggi Kristen di daerah Oregon. Tadinya saya mau masuk ke Universias Oregon, yang lebih besar. Tetapi karena satu dan lain hal saya masuk ke perguruan tinggi yang lebih kecil.

Sejak SMA saya adalah seorang siswa yang serius belajar. Saya suka berkompetisi, dan sengaja mengambil pelajaran yang sulit-sulit. Saya lulus dengan ranking yang termasuk tinggi. Motivasi saya bukan untuk mempelajari tetapi sekedar mendapat nilai tinggi dan bisa mendapat bea siswa ke perguruan tinggi. Ketika kuliah di perguruan tinggi, saya mengalami “kebangunan intelektual” yang mengubah hidup saya selamanya.

Melalui berbagai mata kuliah yang menarik, dosen-dosen yang menginspirasi, serta pengaruh positif beberapa teman dekat, saya mulai betul-betul mempelajari apa saja yang menarik untuk saya pelajari. Saya belajar sejarah, literatur, sastra, sejarah seni, sejarah musik, teori komunikasi, fisika, astronomi, keramik, peradaban dunia, sejarah gereja, teologi, filsafat agama dan masih banyak lagi. Saya sangat bersemangat mempelajari banyak hal dan senang berdiskusi dengan teman-teman dari berbagai latar belakang. Kesadaran akan kebesaran Tuhan melingkupi rentang luas pembelajaran yang membawa saya kepada kekaguman akan kemuliaan Sang Pencipta. Sejak saat itu, hidup saya menjadi penyerahan yang hidup kepada misi dan maksud pendidikan Kristen. Sebagaimana Augustinus mengatakan,”saya percaya maka saya mungkin untuk memahami”. (ROR)

Refleksi:
Pemahaman yang penuh tentang hidup, tentang pekerjaan, dan jawaban terhadap pertanyaan utama dalam hidup hanya mungkin ketika kita mengakui keteraturan dan realitas tentang Tuhan

MENJADI SEPERTI YANG TUHAN INGINI

“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidupdi dalamnya.” (Efesus 2:10)

Tulisan yang sangat indah dari seorang profesor bidang sejarah: Steven R. Pointer, dosen di Trinity International University, Deerfield, Illinois. Beliau mengisahkan pengalamannya pada suatu musim semi yang indah, pohonpohon dan bunga bermekaran, langit berwarna biru cerah, tetapi hatinya sedang galau memikirkan satu hal penting yang menentukan kehidupannya selanjutnya. Di akhir tahun pertama kuliah, Steven sedang mempertimbangkan untuk pindah dari jurusan teknik, jurusan yang sangat bergengsi dan menjadi favorit mahasiswa yang menginginkan karir yang cemerlang. Secara akademik, dia tidak punya masalah untuk menyelesaikan jurusan teknik. Dia sangat kuat dalam bidang matematika dan IPA sejak SMA. Lagipula ayahnya bercita-cita untuk menjadi seorang insinyur dan mengharapkan anaknya menjadi seorang insinyur juga.

Tetapi sekarang, dia dilanda keragu-raguan apakah akan melanjutkan di jurusan teknik atau beralih ke jurusan yang selalu ada di dalam hatinya. Dia bertanyatanya, apakah Allah benar-benar memanggilnya untuk menjadi seorang insinyur atau menjadi seorang ahli sejarah. Kemudian dia memutuskan untuk berdoa, mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan secara jujur. Akhir dari pergumulannya pada waktu itu adalah bahwa dia harus pindah jurusan. Tuhan memberikan jawaban yang sangat jelas, bahwa dia tidak harus menjadi seorang insinyur untuk melayani Tuhan atau untuk menyenangkan ayahnya. Sebaliknya, dia bisa melakukan keduanya dengan mengikuti kerinduan hati (passion) nya yaitu belajar sejarah.

Pengalaman itu selalu dikenangnya sebagai pengalaman dimana Roh Kudus bekerja di dalam hatinya, tercurah dari atas menembus pepohonan dan daun-daun musim semi. Saat itu, beban berat terangkat dari pundaknya. Hari yang mengubah hidupnya dimana sejak saat itu dia menerima dan menikmati rencana Tuhan dalam hidupnya. Sudah lebih dari tiga puluh tahun sejak kejadian itu dan dia masih sangat bersemangat untuk belajar sejarah. (ROR)

Refleksi
Tuhan memiliki panggilan dan rencana yang terindah bagi setiap orang untuk melayani dia sesuai dengan kerinduan hati yang Tuhan berikan.

PENDIDIKAN YANG SEBENARNYA

“Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu“ (Yohanes 8:32)

Ann C. McPherren, seorang profesor Bisnis dan Ekonomi di Huntington College, Huntington, Indiana berkisah tentang pengalamannya ketika pertama kali kuliah. Dia mendapat tawaran untuk kuliah di sebuah universitas Kristen. Meskipun ia berasal dari keluarga berlatar belakang Kristen, namun dia mengalami keterkejutan budaya juga ketika mulai kuliah di tempat itu. Dia berniat untuk mencoba meskipun di sekolah itu tidak ada jurusan yang diminatinya. Dia berencana tahun kedua akan pindah ke universitas “yang sebenarnya”. Lagi pula pihak universitas mengatakan bahwa dia tidak ada kewajiban untuk melanjutkan studi disitu.

Lingkungan di universitas Kristen itu agak aneh. Orang-orang berbicara tentang integrasi iman dan pembelajaran (faith/learning integration). Mereka lebih menghargai kebijaksanaan atau hikmat daripada pendidikan. Kebenaran dan pelayanan lebih utama daripada pengetahuan dan keuntungan. Dia bertanya-tanya dalam hati, “bagaimana saya bisa menyesuaikan diri atau memahami nilai-nilai yang dimiliki orang-orang ini?”

Minggu-minggu pertama kuliah di unviersitas Kristen tersebut merupakan tahap awal pengembangan dirinya. Pada salah satu kelas pidato, dosennya adalah Dr. Carl Zurcher, seorang Kristen yang rendah hati, senang belajar, dan unik. Sang dosen memanggil mahasiswa dengan Tuan atau Nona. Ann merasa aneh, walaupun dia menyadari bahwa itu adalah pertanda bahwa dosen tersebut menghormati mahasiswa sebagai orang dewasa. Dia cukup terkesan. Ketika Dr. Zucher menjadi sutradara pementasan, Ann menyaksikan bahwa beliau juga juga adalah seorang yang sabar, bersyukur, dan memperlakukan dengan hormat pemain maupun para awak yang terlibat.

Selain itu, pada saat mengikuti kuliah agama Ann sangat terkesan dengan diskusi dengan dosen mengenai penjelasan ilmiah dari sudut pandang Alkitab. Begitu pula ketika dia masuk kuliah Kimia dan Biologi, sangat menolong pemikirannya tentang kebenaran: bagaimana memandang sesuatu dari integrasi kebenaran ilahi dan pemahaman ilmiah. Sekarang dia menyadari arti “pendidikan yang sebenarnya.” Pengalaman kuliah di universitas Kristen tersebut membuka hati dan pikirannya. Tanpa terasa dia akhirnya wisuda dari universitas Kristen tersebut bahkan ia kemudian mengajar di universitas Kristen selama 20 tahun. (ROR)

Refleksi :

Kebenaran sejati hanya ada di dalam Sumber Kebenaran itu sendiri.

TUHAN SELALU TEPAT WAKTU

“Kata Yesus kepada mereka: Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan arang siapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.” (Yohanes6:35)

Berikut ini adalah pengalaman seorang dosen yang akan melanjutkan studi progam doktoral: Profesor C. David Dalton. Dikisahkannya, pada suatu hari, Sabtu sore di bulan Agustus di tahun 1982, bel rumah mereka berbunyi. Dia dan istrinya, Cathy, mendapat kunjungan dari pendeta Noel White dari Trinity Hills United Methodist Church di Lexington, Kentucky. David dan Cathy baru pindah ke kota itu karena David diterima pada program doktoral bidang sejarah. Sebagai warga baru, mereka belum mengenal siapapun, sehingga mereka mencoba bergabung dengan satu komunitas gereja.

Kunjungan pendeta membawa sedikit masalah buat mereka karena mereka baru pindah, Cathy belum ada pekerjaan, dan tabungan mereka telah terpakai untuk banyak keperluan yang berhubungan dengan kepindahan ke tempat baru. Lemari penyimpanan makanan kosong, begitu juga dengan tabungan mereka. Mereka hanya punya sebungkus kacang panjang dan sekotak kecil tepung untuk membuat roti jagung. Untungnya Cathy pintar memasak dan tidak lama kemudian terciumlah aroma sedap makanan yang membuat mereka lupa krisis keuangan yang sedang mereka hadapi.

Ketika mereka sedang asik berbincang-bincang dan saling berbagi pengalaman dengan pendeta White, tiba-tiba Cathy melompat dari tempat duduknya teringat akan masakan yang sudah gosong karena air rebusan kacang panjang sudah habis. Mereka begitu fokus akan Firman Tuhan dan pekerjaan sampai-sampai lupa akan rasa lapar dan makanan yang sedang dimasak. Ketika Pendeta White pulang, David dan Cathy makan makanan yang tersisa, sambil memikirkan apa yang akan mereka makan sampai David gajian minggu depan.

Kemudian, hari Senin, bagaikan manna dari surga, David menerima sepucuk surat dari orangtuanya. Surat itu berisikan harapan agar mereka sehat-sehat dan segera menyesuaikan diri dengan tempat yang baru. Selain itu, di dalam amplop ada juga uang tunai yang barangkali mereka perlukan, pesannya “just in case”. Bagi David dan Cathy merupakan “just in time”. (ROR)

Refleksi:

Tuhan tahu kapan memberikan pertolongan yang tepat waktu untuk menolong anak-anakNya semakin percaya kepadaNya

JIKA ALLAH DI PIHAK KITA

“Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kiita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? “ (Roma 8:31-32)

Jonathan K. Parker adalah seorang mahasiswa tingkat akhir di University of California di Santa Cruz, ketika ia dan seorang temannya mengajukan suatu usulan untuk memberikan kuliah yang berjudul “The Theology of Francis Schaffer”. Kebijakan kampus membolehkan seorang mahasiswa tingkat ahir untuk mengajar topik tertentu, tetapi harus melalui proses pendaftaran. Mereka menyerahkan deskripsi mata kuliah beserta silabus kepada ketua program studi agama (Religious Study Department). Sang ketua progam adalah seorang doktor lulusan Jerman, non-Kristen, yang walaupun bukan orang percaya menghargai usulan dari kedua mahasiswa tersebut dan berjanji akan mendiskusikannya dengan dewan dosen.

Dalam rapat dewan dosen, salah seorang dosen berusaha menggagalkan usulan mata kuliah tersebut dengan alasan bahwa Jonathan dan temannya sering melakukan penginjilan dan membuat orang lain bertobat. Namun demikian ketua progam menangkap maksud dosen tersebut yang memiliki prasangka buruk dan telah bersikap diskriminatif. Akhirnya usulan mata kuliah tersebut diterima dan mendapat dukungan dari ketua progam dan dewan dosen. Jonathan Parker dan temannya sangat bersyukur atas keputusan tersebut.

Mata kuliah tersebut menolong banyak mahasiswa yang belum pernah mendengar tentang Francis Schaffer. Itu merupakan pertama kali mahasiswa mempelajari diskusi intelektual dari perspektif Kristen, dimana mereka mengintegrasikan iman Kristen dan bidang ilmu yang mereka pelajari seperti filsafat, seni, politik. Sejak saat itu, Jonathan Parker yakin bahwa ia terpanggil untuk bekerja di bidang pendidikan tinggi. Dia menyaksikan bagaimana kedaulatan Allah bekerja di dalam diri seorang yang tidak percaya, sehingga dia punya kesempatan untuk mengintegrasikan iman Kristen dengan bidang akademik di lingkungan non-Kristen. (ROR)

 

Refleksi:
Tuhan berdaulat untuk menunjukkan kuasaNya bahkan melalui orang-orang yang tidak percaya sehingga orang-orang percaya dapat mengalami kebenaran sejati.