SUKACITA DI DALAM TANGGUNGJAWAB SOSIAL
“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.” Kisah para rasul 2:46-47
26 December 2017
Sejak 10 tahun lalu pemerintah mewajibkan perusahaan yang bergerak di bidang
sumber daya alam untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Ini adalah upaya meningkatkan kesadaran perusahaan agar berperilaku etis dan
berkontribusi bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Sebenarnya sejarah
menunjukkan bahwa tanggungjawab sosial merupakan bagian tak terpisahkan dari
usaha. Di masa lalu, usaha-usaha didirikan untuk kepentingan masyarakat, seperti
menyediakan makanan dan perumahan. Selain mengusahakan keuntungan komersial,
perusahaan berambisi memajukan kesejahteraan masyarakat dan lingkungan.
Jemaat mula-mula adalah representasi komunitas yang dicita-citakan banyak orang.
Mereka rutin berjumpa dan tekun membangun relasi dengan Tuhan dan sesama.
Dalam hubungan yang akrab, mereka merasa sepenanggungan dan peduli satu kepada
yang lain. Mereka merasa cukup sehingga senang berbagi bahkan rela berkorban
demi kebaikan bersama. Keinsyafan mereka tercermin di dalam kegiatan keseharian.
Pertumbuhan rohaninya nyata dalam perkembangan kapasitas mental dan sosial. Allah
dan sesama adalah orientasi hidupnya dan mereka disenangi oleh semua orang. Tuhan
bekerja secara luar biasa di dalam hidup mereka. Mereka benar-benar menikmati
kebersamaan dan hidup penuh sukacita.
Suatu persahabatan biasanya dimulai untuk kepentingan pribadi yang terlibat. Tetapi
persahabatan yang sehat menumbuhkan kepedulian seturut dengan berkembangnya
penghayatan atas panggilan Tuhan bagi mereka. Dalam konteks universitas, itu
mencakup kepentingan dan persoalan organisasi, masyarakat, bangsa, bahkan dunia.
Karena itu, kita perlu memandang orang-orang yang berinteraksi intens dengan kita
sebagai sahabat rohani. Pertemuan dan persekutuan dengan mereka merupakan jalan
bagi kita untuk menyadari tujuan dan tanggungjawab kepada organisasi, industri, dan
masyarakat. Jika kita sebagai dosen dan mahasiswa, sesama peneliti, atau kelompok
kerja, dalam terang Kristus tekun mencari makna atas kegiatan akademik dan
organisasi yang kita laksanakan, kita akan semakin berkembang dan memberi dampak
bagi kehidupan. Di situ kita menemukan sukacita sejati yaitu berjalan bersama Allah
ke tujuan dan kehendak-Nya.
(JS)
Refleksi
Renungan Lainnya
JIWA YANG BERPADU
Wednesday, 20 December 2017
“Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri.” (1 Sam 18:1)
Mengambil Bagian dalam Kodrat Ilahi
Sunday, 17 December 2017
Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengabil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. (2 Petrus 1:4)
SUKACITA DI DALAM TANGGUNGJAWAB SOSIAL
Tuesday, 26 December 2017
“Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”
Kisah para rasul 2:46-47